setelah banyak masyarakat yg simpati, msh tetep cari perhatian

RS Omni Ajak Prita Damai dengan Mencabut Gugatan Perdata yang Telah Dimenangkan

TANGERANG – Gencarnya simpati kepada Prita Mulyasari membuat RS Omni Internasional, Tangerang, harus berhitung. Rumah sakit yang memolisikan Prita atas kasus pencemaran nama baik melalui milis itu akhirnya memilih berdamai dengan perempuan berjilbab tersebut.

Manajemen RS Omni menyatakan akan mencabut gugatan perdata yang telah dimenangkan oleh Pengadilan Tinggi (PT) Banten. Langkah itu akan memengaruhi proses sidang kasus pencemaran nama baik dengan terdakwa Prita di Pengadilan Negeri (PN) Tangerang.

”Benar, kami mencabut gugatan perdata,” tegas pengacara RS Omni, Herribertus SH, kepada Indopos (Jawa Pos Group) tadi malam. Dia menyatakan rencana perdamaian itu difasilitasi Departemen Kesehatan (Depkes).

Menurut dia, RS Omni kini tinggal menunggu kesiapan Prita untuk menerima tawaran tersebut. Bila Prita bersedia, RS Omni akan langsung mencabut gugatan. ”Hukum acara perdata mensyaratkan perdamaian harus dilakukan kedua pihak,” ujarnya.

Herribertus juga menegaskan, pencabutan gugatan perdata itu bukan disebabkan adanya desakan publik terkait pengumpulan uang koin dari masyarakat untuk Prita atau desakan dari Depkes.

Bagaimana dengan sidang pidana Prita? Herribertus menjawab, kasus pidana tidak bisa dihentikan karena sudah masuk proses sidang. Meski demikian, adanya perdamaian itu kelak akan menjadi pertimbangan hakim untuk menghentikan kasus tersebut. ”Proses perdamaian ini bukan satu kali kami ajukan. Dulu dimediasi Plt wali kota Tangsel juga tidak berhasil. Tapi, kali ini saya optimistis berhasil,” ujarnya lagi.

Selain kasus perdata, Prita menghadapi sidang pidana. Itu berdasar laporan RS Omni ke kepolisian. Prita telah menjadi terdakwa dan mengikuti sidang di PN Tangerang. Kasus Prita berawal dari penyebaran e-mail melalui milis yang berisi kekecewaan atas pelayanan buruk RS Omni.

Sementara itu, dukungan terhadap Prita Mulyasari terus mengalir. Sejumlah simpatisan menghadiri sidang lanjutan Prita di PN Tangerang dengan agenda pembacaan replik. Salah seorang simpatisan itu mantan Menteri Perindustrian Fahmi Idris. Dia datang bersama istri untuk mengikuti sidang sekaligus memberikan dukungan kepada Prita.

Sebelum sidang, Fahmi mengungkapkan rasa pesimisnya terhadap persidangan yang berlangsung. Dia menegaskan, sistem peradilan di negara ini buram dan kusam. Dia lantas mencontohkan, penanganan berbagai kasus besar yang dilakukan koruptor tidak selesai. Namun sebaliknya, perkara kecil dengan terdakwa masyarakat kecil yang hanya mencuri cokelat dijatuhi vonis berat. ”Saya pesimistis dengan proses hukum yang ada. Saya ke sini untuk memberikan dukungan moril. Prita harus tahu bahwa dia tidak sendirian. Banyak masyarakat yang mendukungnya,” kata Fahmi.

Dia menyatakan siap membantu meringankan Prita dari denda yang dijatuhkan pengadilan Rp 204 juta. Itu dibuktikan Fahmi dengan memberikan bantuan uang dalam bentuk cek bernilai Rp 102 juta. Cek tersebut terdiri atas lima lembar cek senilai Rp 10 juta, dua lembar cek Rp 25 juta dan dua lembar cek bernilai Rp 2 juta. ”Saya bawa bantuan setengah dari denda perdata yang dijatuhkan kepada Prita Rp 204 juta,” kata Fahmi Idris.

Setelah sidang, Prita menyampaikan terima kasih atas berbagai bantuan. Dia juga memastikan, seluruh sumbangan akan diberikan kepada masyarakat miskin apabila kelak diputus bebas dan tidak harus membayar denda. ”Saya sangat berharap divonis bebas,” ujar Prita didampingi Fahmi.

Di luar gedung PN Tangerang, Jalan TMP Taruna, puluhan musisi jalanan yang tergabung dalam komunitas anak langit melakukan aksi ngamen ”kumpul koin Prita”. Bukan hanya komunitas anak langit, melainkan juga Koalisi Perempuan Indonesia dan Perhimpunan Magister Hukum Indonesia turut melakukan aksi kumpul koin bagi Prita. Dari aksi itu terkumpul dana Rp 6 juta.

Terkait agenda pembacaan replik, jaksa penuntut umum Riyadi dalam isi replik setebal 23 halaman bersikeras agar majelis hakim menjatuhkan pidana hukuman penjara enam bulan kepada terdakwa. Riyadi menjelaskan bahwa Prita telah dengan sengaja membuat e-mail dan sekaligus menyebarkan menggunakan laptop.

Menurut Riyadi, fakta persidangan yang tidak dibantah dan terbantahkan terdapat dalam kalimat akhir surat elektronik terdakwa adalah ”Saya mengharapkan mudah-mudahan salah satu pembaca karyawan atau dokter atau manajemen RS Omni, tolong sampaikan ke dokter Hengky, Grace, Mimi, dan Ogi bahwa jangan sampai pekerjaan mulia kalian sia-sia hanya demi perusahaan Anda”. (din/kim/agm

dikutip dr jawapos [ Kamis, 10 Desember 2009 ]

Iklan

~ oleh pwgaskin pada Desember 10, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: